Indgold.id – Harga emas kembali memperbarui reli rekornya dan menorehkan level tertinggi baru di dekat US$3.703 per troy ons, sementara harga tembaga juga ikut melonjak ke posisi tertinggi sejak Juni 2024. Kedua logam ini mendapatkan dukungan kuat dari ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve AS (The Fed) serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Menurut analis komoditas ING, Ewa Manthey dan Warren Patterson, kombinasi dari melemahnya dolar AS, turunnya imbal hasil obligasi pemerintah, dan meningkatnya arus safe haven membuat investor semakin optimis terhadap prospek emas.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga AS
Pasar global kini menaruh perhatian pada pertemuan kebijakan moneter FOMC (Federal Open Market Committee) yang digelar pada 16–17 September. Investor secara luas memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin, dengan peluang cukup besar untuk tambahan pemangkasan hingga akhir 2025.
Pasar swap bahkan menilai kemungkinan adanya tiga kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, seiring dengan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS. Ekspektasi ini telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level terendah multi-bulan, sekaligus melemahkan indeks dolar AS.
Namun, dinamika kebijakan moneter AS juga semakin dipengaruhi oleh faktor politik. Presiden Donald Trump terus menekan The Fed untuk memangkas suku bunga lebih agresif. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai independensi bank sentral yang sebelumnya selalu dijaga ketat.
Emas Naik 40% Sejak Awal Tahun
Sejak awal 2025, harga emas telah melesat lebih dari 40%, di dorong oleh beberapa faktor utama:
-
Ketidakpastian geopolitik – meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah dan perang yang berlarut antara Rusia dan Ukraina.
-
Kebijakan perdagangan AS – langkah proteksionis pemerintahan Trump yang menimbulkan risiko inflasi dan mengganggu rantai pasok global.
-
Permintaan bank sentral – pembelian emas oleh bank sentral tetap tinggi, terutama dari negara-negara berkembang yang mencari di versifikasi cadangan devisa.
Emas, yang secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven), tetap menarik bagi investor di tengah kombinasi ketidakpastian ekonomi dan politik global.

Prospek Produksi Tembaga Chile
Sementara itu, harga tembaga juga mencatat lonjakan tajam setelah pemerintah Chile, produsen tembaga terbesar di dunia, merilis proyeksi positif. Chile memperkirakan produksi tembaga akan tumbuh baik pada tahun ini maupun tahun depan, dengan target jangka panjang mencapai rekor 6 juta ton pada 2027.
Meskipun demikian, tantangan tidak kecil masih membayangi. Beberapa tambang besar seperti Codelco dan Teck Resources Ltd. mengalami kemunduran produksi akibat masalah operasional dan kualitas bijih yang menurun. Akibatnya, target produksi tembaga tahun ini kemungkinan hanya akan berada di kisaran 5,6 juta ton.
Namun, ada perkembangan positif dari tambang-tambang utama lain:
-
Tambang Escondida milik BHP berhasil meningkatkan produksi sebesar 11% YoY pada paruh pertama 2025.
-
Collahuasi mulai pulih setelah periode produksi bijih berkualitas rendah.
-
Tambang El Salvador melaporkan adanya peningkatan output setelah ekspansi fasilitas produksi.
Faktor-faktor ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar global yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi defisit pasokan tembaga akibat keterlambatan proyek baru dan biaya produksi yang meningkat.
Sentimen Pasar ke Depan
Secara keseluruhan, arah pergerakan harga emas dan tembaga dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada:
-
Keputusan The Fed minggu ini, khususnya nada kebijakan yang di sampaikan Ketua Jerome Powell dalam konferensi pers.
-
Kondisi geopolitik yang masih tegang di Timur Tengah dan Eropa Timur.
-
Keseimbangan pasokan dan permintaan logam industri, terutama prospek produksi dari negara produsen utama seperti Chile dan Peru.
Jika The Fed mengisyaratkan siklus pemangkasan suku bunga yang lebih panjang, emas berpotensi untuk melanjutkan reli ke atas $3.750 per troy ons. Sementara itu, tembaga dapat tetap di dukung oleh kombinasi ekspektasi permintaan sektor energi terbarukan dan keterbatasan pasokan global.






