Indgold.id – Harga emas kembali menguat pada sesi perdagangan Amerika Utara, Jumat (27/9), dengan kenaikan 0,60%. Logam mulia tersebut berhasil menutup hari di level $3.774 per troy ounce setelah sempat turun ke titik terendah intraday di $3.734. Kenaikan ini terjadi setelah laporan inflasi terbaru memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan tetap bersikap dovish dan membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut.
Data Inflasi PCE Menguatkan Ekspektasi Penurunan Suku Bunga
Katalis utama pergerakan emas datang dari rilis data Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) inti, indikator inflasi favorit The Fed, yang sesuai ekspektasi pasar. Laju inflasi inti tetap berada di bawah level psikologis 3% yang sempat disentuh pada Februari lalu. Meski biaya hidup menunjukkan tren naik, hasil ini dianggap cukup memberi ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Di sisi lain, laporan Sentimen Konsumen Universitas Michigan menunjukkan penurunan pada September. Kekhawatiran rumah tangga terhadap harga yang masih tinggi serta melemahnya pasar tenaga kerja menjadi alasan utama. Meski begitu, ekspektasi inflasi masyarakat mulai menunjukkan penurunan baik untuk jangka pendek (1 tahun) maupun jangka menengah (5 tahun).

Komentar Pejabat The Fed dan Dinamika Pasar
Beberapa pejabat The Fed turut memberikan pernyataan yang mendukung tren dovish. Gubernur Michelle Bowman menilai pasar tenaga kerja semakin rapuh, sementara inflasi di luar biaya perumahan tidak jauh di atas target. Presiden The Fed Richmond, Thomas Barkin, menambahkan bahwa konsumsi masyarakat, baik berpendapatan rendah maupun tinggi, masih relatif solid.
Sementara itu, ketegangan perdagangan kembali mencuat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif baru: 100% untuk produk farmasi impor, 50% untuk lemari dapur dan perlengkapan kamar mandi, 40% untuk furnitur berlapis, serta 25% untuk truk berat. Kebijakan ini berpotensi memicu volatilitas tambahan di pasar global.
Fokus Pasar Minggu Depan
Para pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada data penting AS yang akan dirilis pekan depan, di antaranya:
- Laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP
- Indeks Manufaktur ISM
- Klaim Pengangguran Awal
- Nonfarm Payrolls (NFP) untuk September
Selain itu, sejumlah pidato pejabat The Fed akan turut memberi warna pada arah kebijakan moneter selanjutnya.
Kondisi Pasar: Dolar Melemah, Yield Naik
Meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik tipis satu basis poin menjadi 4,187%, harga emas tetap reli berkat pelemahan Dolar AS. Indeks Dolar (DXY) turun 0,27% ke 98,18, sehingga logam mulia menjadi lebih menarik bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil riil AS pun meningkat ke 1,807%, namun belum mampu meredam sentimen bullish emas.
Data CME FedWatch menunjukkan pasar memperkirakan probabilitas 88% bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada Oktober, serta peluang 65% untuk pemangkasan tambahan di Desember.
Prospek Teknis XAU/USD
Secara teknikal, harga emas berhasil menembus level kunci $3.750 dan kini mengincar rekor tertinggi sepanjang masa di $3.791, dengan potensi menuju $3.800. Relative Strength Index (RSI) yang masih berada di area 70–80 mengindikasikan momentum bullish tetap kuat meski sudah dalam kondisi jenuh beli.
Namun, jika XAU/USD tergelincir di bawah $3.750, koreksi lebih dalam bisa terjadi dengan support terdekat di $3.700, sebelum menguji Simple Moving Average (SMA) 20-hari di $3.648.

Harga emas tetap menunjukkan tren positif di tengah ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan pelemahan Dolar AS. Ketidakpastian global akibat kebijakan tarif baru AS serta data ekonomi penting pekan depan akan menjadi penggerak utama pasar. Selama support kunci tetap bertahan, prospek bullish emas masih terbuka lebar.






